Jumat, 11 Januari 2013

STRUKTUR KURIKULUM 2013

               

Struktur Kurikulum 2013

Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum --termasuk pembelajaran-- dan penilaian pembelajaran dan kurikulum.
Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi amat penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.
iklan4-gbr1
iklan4-tabel1
iklan4-tabel2
Pada titik inilah, maka penyampaian struktur kurikulum dalam uji publik ini menjadi penting. Tabel 1 menunjukkan dasar pemikiran perancangan struktur kurikulum SD, minimal ada sebelas item. Sementara dalam rancangan struktur kurikulum SD ada tiga alternatif yang di mesti kita berikan masukan.

iklan4-tbl2 Di jenjang SMP usulan rancangan struktur kurikulum diperlihatkan pada tabel 2. Bagaimana dengan jenjang SMA/SMK? Bisa diturunkan dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang sudah ditentukan, dan juga perlu diberikan masukan.
Tiga Persiapan untuk Implementasi Kurikulum 2013
ADA pertanyaan yang muncul bernada khawatir, dalam uji publik kurikulum 2013? Persiapan apa yang dilakukan Kemdikbud untuk kurikulum 2013? Apakah sedemikian mendesaknya, sehingga tahun pelajaran 2013 mendatang, kurikulum itu sudah harus diterapkan. Menjawab kekhawatiran itu, sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda Kementerian untuk implementasi kurikulum 2013. Pertama, berkait dengan buku pegangan dan buku murid. Ini penting, jika kurikulum mengalami perbaikan, sementara bukunya tetap, maka bisa jadi kurikulum hanya sebagai “macan kertas”.
Pemerintah bertekad untuk menyiapkan buku induk untuk pegangan guru dan murid, yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dengan lainnya.
Kedua, pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara bertahap, maka pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu, empat di jenjang SD dan kelas tujuh, di SMP, serta kelas sepuluh di SMA/SMK, tentu guru yang diikutkan dalam pelatihan pun, berkisar antara 400 sampai 500 ribuan.
Ketiga, tata kelola. Kementerian sudah pula mnemikirkan terhadap tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Karena tata kelola dengan kurikulum 2013 pun akan berubah. Sebagai misal, administrasi buku raport. Tentu karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan, maka buku raport pun harus berubah.
Intinya jangan sekali-kali persoalan implementasi kurikulum dihadapkan pada stigma persoalan yang kemungkinan akan menjerat kita untuk tidak mau melakukan perubahan. Padahal kita sepakat, perubahan itu sesuatu yang niscaya harus dihadapi mana kala kita ingin terus maju dan berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini sesungguhnya kita ingin membeli masa depan anak didik kita dengan harga sekarang. (diambil dari http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-4)

Kamis, 10 Januari 2013

Tak ADA RSBI No Problemo

             RSBI begitu banyak anak berlomba untuk masuk ke sekolah yang dianggap favorit, karena itulah seringkali terjadi indikasi penyimpangan dalam penerimaan siswa di RSBI walaupun tidak semua RSBI seperti itu tapi cap sebagai sekolah elit dan favorit yang membekas menjadikan paradigma tersendiri bagi siswa dan orangtua siswa. Kebanggaan bagi orangtua yang anaknya terdaftar sebagai siswa RSBI terkadang juga menjadi faktor yang menyebabkan keinginan orang tua agar anaknya bersekolah di sekolah-sekolah RSBI. Akan tetapi hal itu juga bukanlah jaminan bahwa si anak kemudian akan menjadi anak yang pandai dan cerdas. Pengalamana saya saat mendampingi siswa untuk berlomba dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia di Jakarta pada tahun 2010 dan 2012 memang terlihat perbedaan antara siswa RSBI dan non RSBI terutama dalam hal keberanian dan cara mereka berhadapan dengan orang lain. Akan tetapi ternyata yang menjadi juara pertama bukan siswa yang berasal dari RSBI melainkan siswa yang berasal dari luar RSBI seperti sekolah SSN.
             Keberadaan RSBI tidak serta merta menjadikan guru dan siswa yang provesional malah yang ada para guru seakan terpaku pada nilai siswa yang harus diatas 75 atau minimal 75 karena nilai tersebut merupakan salah satu sarat bagi keberlangsungan RSBI. Guru pada sekolah RSBI memang dipaksa untuk mampu menjadi guru yang provesional yang pada akhirnya guru akan mengajar dengan orientasi angka atau nilai. Padahal pada hakikatnya keberhasilan pendidikan bukan hanya didasarkan pada nilai semata melainkan pada akhlak dan atitude atau sikap siswa. Kemampuan berfikir siswa RSBI sama dengan kemampuan pada siswa kelas unggulan yang diterpkan di sekolah SSN yang saya ajar dan memang agak berbanding terbalik dengan kelas biasa pada sekolah SSN. Siswa RSBI dapat menerima pelajaran dengan lebih baik dan guru seakan bebas dalam menjalankan metode-metode pembelajaranya.
              Kebebasan itu ditunjang dengan fasilitas yang memadai yang ada di RSBI sehingga guru mampu mengembangkan potensi pembelajaran yang Aktif Kreatif dan Menyenangkan. Walaupun begitu, tidak semua guru mau dan mampu untuk itu. Ada saja guru RSBI yang tetap menggunakan metode dan cara lama dalam mengajar siswa. Salah satu hal yang menarik di sekolah RSBI adalah penggunaan komputer jinjing atau Laptop sebagai kewajiban bagi seluruh siswa akan tetapi guru masih juga membagikan atau menjual buku lalu buat apa siswa punya laptop?  Memang terdapat kelebihan dan kekurangan dari sistem RSBI tapi nyatanya ada ataupun tidak predika RSBI yang melekat di belakang nama sekolah yang sekarang berstatus RSBI maka sekolah-sekolah itu memang merupakan sekolah-sekolah unggul dibandingkan dengan sekolah lainya. Maka dari itu perlu adanya pemerataan guru dan juga peningkatan kualitas guru serta pemerataan informasi kepada semua sekolah agar didapatkan sekolah-sekolah dengan mutu yang baik dan dalam kualitas pendidikan yang merata. 
                 Jadi ada atau tidak nama RSBI so what? masih tetap sukar menembus dominasi sekolah-sekolah mantan RSBI dikarenakan fasilitas, kulitas guru dan input siswa yang ada di sekolah yang lainnya. RSBI memang bukan merupakan jaminan tapi RSBI terkadang adalah tujuan dari semua sekolah untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikannya. Saat RSBI tak ada maka persaingan itupun semakin hilang muncullah kesenjangan lagi antar sekolah dengan taraf yang sama. Jadi intinya ada atau tidak ada RSBI ya No Problemo hanya saja fasilitas penunjang pembelajaran dan kualitas guru harus ditingkatkan dan disama ratakan antar tiap-tiap sekolah agar persaingan lebih adil.
            

Pelajaran Sejarah SMA Dalam Kurikulum 2013

                Sejarah merupakan ilmu yang akan terus berkembang dan tidak akan mati, itulah mengapa sejarah sukar untuk dijadikan salah satu bagian dalam ujian nasional. Mungkin hal ini terdengar aneh mengapa harus membahas ujian nasional saat membahas sejarah dalam kurikulum 2013. Jika kita memandang kebelakang, pelajaran sejarah tidak terlalu banyak mendapat tempat dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) khususnya di tingkat SMA. Sejarah hanya diberikan 2jp untuk kelas X dan 1 JP untuk kelas IPA serta 3jp untuk IPS. Hal inilah yang dirasakan kurang karena karakter bangsa dan anak bangsa bisa dibangun dengan sejarah. Kurikulum 2013 untuk SMA akan membagi sejarah pada dua mata pelajaran yaitu sejarah Indonesia dan pelajaran sejarah saja. Dengan pembelajaran sejarah Indonesia merupakan pelajaran wajib dengan 2jp tiap kelas dan tiap tingkatan kelas serta pelajaran sejarah menjadi pelajaran pilihan dengan jumlah 4jp buat tiap tingkatan dan bisa dipilih baik jurusan IPS maupun jurusan IPA.
                Dengan begitu seharusnya pelajaran sejarah menjadi salah satu andalan pembentukan karakter siswa khususnya siswa SMA? pertanyaan ini sepertinya akan dijawab tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan masuknya sejarah kedalam pelajaran pilihan bagi jurusan IPS menunjukkan bahwa nantinya sejarah juga akan masuk kedalam ujian yang bersifat terpadu seperti ujian nasional atau apalah nantinya nama ujian itu jika UN dihapuskan. Masuknya sejarah menggeser matematika sebagai pilihan untuk program IPS yaitu Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi, Sejarah dan Gerografi. Keempat mata pelajaran ini nantinya pasti akan diujikan sebagai syarat kelayakan lulus bagi mereka yang mengambil jurusan IPS. Sebuah tantangan berat bagi para guru sejarah dimana guru sejarah dituntut mampu mengantarkan siswa siswinya untuk mampu menghapalkan sejarah nasional dan dunia hanya dalam waktu kurang lebih 3 tahun dan dalam waktu yang tidak terlalu lama itu siswa juga harus menghapalkan pelajaran-pelajaran yang lain. Padahal seorang guru sejarah harus menghapalkan perbagian sejarah Indonesia dan dunia dalam tiap-tiap semester tanpa diganggu dengan pelajaran lain saat ia kuliah.
              Pertanyaannya sekarang mampukah siswa dan guru sejarah SMA mempertanggung jawabkan pelajaran sejarah yang telah diberikan porsi kusus untuk memberikan pembelajaran karakter bagi siswa. Yang pasti ada sekitar enam bulan lagi sebelum kurikulum baru di terapkan secara penuh dalam pembelajaran pada tahun ajaran 2013/2014 semoga seluruh guru sejarah siap dalam menerapkan kurikulum baru karena guru sejarah di haruskan untuk mengajar dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pelajaran lainnya karena ada pelajaran sejarah Indonesia sebagai pelaaran wajib dan pelajaran Sejarah sebagai pelajaran pilihan di semua tingkatan kelas mulai kelas X sampai XII.